Academic Writing

Apa Itu Research Gap dalam Skripsi? Ini Pengertian dan Jenisnya

Masih bingung apa itu research gap dalam skripsi? Kenali pengertian, jenis, dan contoh research gap yang kuat agar kamu tidak lagi menganggap gap sekadar “belum pernah diteliti”.

13 Agustus 2026 Nisrina Putri Dayani · SEO Article Writer 4 menit baca
Apa Itu Research Gap dalam Skripsi? Ini Pengertian dan Jenisnya

Research gap merupakan istilah yang sering muncul ketika mahasiswa mulai menyusun skripsi. Namun, research gap tidak berarti bahwa topik yang dipilih harus benar-benar belum pernah diteliti.

Secara sederhana, research gap adalah bagian dari pengetahuan atau persoalan yang masih belum cukup terjawab oleh penelitian yang sudah ada. Gap inilah yang dapat menjadi salah satu alasan akademik mengapa penelitian baru masih diperlukan.

Apa Itu Research Gap?

Research gap adalah celah dalam pengetahuan yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Celah tersebut dapat berupa aspek yang belum cukup dipahami, hasil penelitian yang berbeda, konteks yang belum banyak dikaji, atau keterbatasan tertentu dalam penelitian sebelumnya.

Artinya, sebuah topik tetap dapat memiliki research gap meskipun sudah banyak penelitian yang membahasnya. Yang perlu dicari bukan sekadar apakah topiknya pernah diteliti, tetapi apa yang masih belum terjawab dari penelitian yang sudah tersedia.

Apakah Research Gap Harus “Belum Pernah Diteliti”?

Tidak. Pernyataan bahwa “belum ada penelitian tentang topik ini” tidak otomatis menunjukkan research gap yang kuat.

Penelitian baru tetap dapat dilakukan pada topik yang sudah banyak diteliti apabila terdapat persoalan yang belum cukup terjawab. Misalnya, penelitian sebelumnya menghasilkan temuan yang berbeda, belum mengkaji konteks tertentu, atau memiliki keterbatasan yang masih membuka ruang untuk penelitian berikutnya.

Karena itu, research gap lebih berkaitan dengan ketidakcukupan pengetahuan yang tersedia daripada sekadar ketiadaan penelitian.

Jenis Research Gap dalam Penelitian

Research gap dapat muncul dalam beberapa bentuk. Tidak semua penelitian harus memiliki seluruh jenis gap karena bentuk yang relevan bergantung pada bidang dan persoalan penelitian.

1. Knowledge Gap

Knowledge gap terjadi ketika masih ada aspek pengetahuan yang belum cukup dipahami atau dijelaskan. Penelitian terdahulu mungkin sudah membahas suatu fenomena, tetapi masih terdapat bagian tertentu yang belum memiliki penjelasan memadai.

Misalnya, suatu fenomena sudah diketahui terjadi di kalangan mahasiswa, tetapi faktor yang menyebabkan fenomena tersebut belum banyak dijelaskan. Bagian yang belum terjawab tersebut dapat menjadi ruang untuk penelitian lebih lanjut.

2. Contradictory Findings

Gap dapat muncul ketika penelitian terdahulu menghasilkan temuan yang berbeda atau tidak konsisten. Beberapa penelitian mungkin mengkaji persoalan yang serupa, tetapi memberikan hasil yang tidak menunjukkan kesimpulan yang sama.

Perbedaan tersebut dapat menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab munculnya hasil yang berbeda. Penelitian berikutnya dapat diarahkan untuk memahami persoalan tersebut dengan mempertimbangkan konteks atau faktor tertentu.

3. Context Gap

Context gap terjadi ketika suatu persoalan sudah diteliti, tetapi belum cukup dikaji dalam konteks tertentu. Konteks tersebut dapat berupa lokasi, institusi, lingkungan, kondisi sosial, atau situasi tertentu.

Sebagai contoh, penggunaan teknologi dalam pembelajaran mungkin sudah banyak diteliti, tetapi penelitian yang tersedia lebih banyak berfokus pada konteks pendidikan tertentu. Jika terdapat alasan akademik untuk mengkaji konteks yang berbeda, kondisi tersebut dapat menjadi ruang penelitian.

4. Methodological Gap

Methodological gap berkaitan dengan keterbatasan atau dominasi metode tertentu dalam penelitian sebelumnya. Suatu persoalan mungkin sudah banyak dikaji, tetapi masih ada aspek yang belum cukup dipahami karena pendekatan yang digunakan selama ini terbatas.

Misalnya, penelitian terdahulu lebih banyak menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengukur suatu fenomena. Pendekatan lain dapat dipertimbangkan jika memang diperlukan untuk memahami pengalaman, alasan, atau proses yang belum dapat dijelaskan secara memadai oleh penelitian sebelumnya.

Contoh Research Gap yang Kuat dan Lemah

Perbedaan antara sekadar menemukan topik dan menemukan research gap dapat dilihat dari contoh berikut.

“Belum ada penelitian mengenai penggunaan AI oleh mahasiswa.”

Pernyataan tersebut belum tentu menunjukkan research gap yang kuat. Bisa saja penelitian mengenai penggunaan AI oleh mahasiswa sebenarnya sudah banyak dilakukan.

Bandingkan dengan:

“Penelitian mengenai penggunaan AI oleh mahasiswa telah berkembang, tetapi temuan mengenai pengaruhnya terhadap proses penulisan akademik masih menunjukkan hasil yang berbeda.”

Pernyataan kedua menunjukkan persoalan yang lebih jelas. Penelitian sudah tersedia, tetapi terdapat ketidakkonsistenan temuan yang masih membutuhkan penjelasan.

Contoh tersebut juga menunjukkan bahwa topik yang berbeda tidak otomatis menjadi research gap. Perbedaan objek, lokasi, atau kelompok penelitian perlu disertai alasan akademik yang menunjukkan adanya pengetahuan atau persoalan yang masih belum cukup terjawab.

Bagaimana Mengenali Research Gap?

Untuk memahami apakah suatu persoalan memiliki research gap, kamu perlu melihat penelitian terdahulu secara keseluruhan. Perhatikan apa yang sudah diketahui, bagian mana yang masih belum jelas, dan apakah penelitian sebelumnya menunjukkan keterbatasan atau hasil yang belum konsisten.

Kamu juga dapat memperhatikan bagian diskusi, keterbatasan penelitian, dan saran untuk penelitian selanjutnya. Bagian tersebut sering menunjukkan persoalan yang menurut peneliti masih membutuhkan kajian lebih lanjut, meskipun tetap perlu dibandingkan dengan penelitian lain agar gap yang ditemukan memiliki dasar yang kuat.

Jadi, jangan hanya mencari kalimat “belum diteliti”. Cari juga bagian yang menunjukkan “belum cukup dijelaskan”, “hasilnya berbeda”, atau “belum banyak dikaji dalam konteks tertentu”.

Research Gap dan Penelitian Baru

Research gap memberikan dasar untuk menjelaskan mengapa penelitian baru masih diperlukan. Ketika terdapat bagian pengetahuan yang belum cukup terjawab, penelitian baru dapat diarahkan untuk memberikan pemahaman yang lebih lengkap terhadap persoalan tersebut.

Namun, adanya research gap tidak berarti penelitian harus menghasilkan sesuatu yang sepenuhnya belum pernah ada. Unsur kebaruan atau novelty dapat muncul dari cara penelitian memberikan kontribusi terhadap pengetahuan yang sudah ada, baik melalui temuan, pendekatan, konteks, maupun perspektif tertentu.

Kesimpulan

Research gap adalah bagian dari pengetahuan atau persoalan yang masih belum cukup terjawab oleh penelitian yang sudah ada. Karena itu, research gap tidak harus berarti bahwa suatu topik belum pernah diteliti sama sekali.

Gap dapat berupa pengetahuan yang belum lengkap, temuan yang tidak konsisten, konteks yang belum cukup dikaji, atau keterbatasan metodologis. Yang terpenting, research gap harus menunjukkan alasan akademik yang jelas mengapa penelitian baru masih diperlukan.

FAQ

Apakah research gap harus belum pernah diteliti?

Tidak. Research gap dapat muncul dari penelitian yang sudah ada tetapi masih menyisakan pertanyaan, keterbatasan, atau temuan yang belum konsisten.

Apakah topik yang berbeda otomatis menjadi research gap?

Tidak. Perbedaan topik, objek, atau lokasi perlu memiliki alasan akademik yang menunjukkan adanya persoalan yang masih perlu dikaji.

Apakah research gap penting dalam skripsi?

Ya. Research gap dapat membantu menunjukkan alasan akademik mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan.

#research gap #skripsi #penelitian #topik penelitian #metode penelitian #karya ilmiah #mahasiswa