Turnitin

Jenis Plagiarisme yang Nggak Disadari Mahasiswa

Kenali 4 jenis plagiarisme yang sering nggak disadari mahasiswa—dari parafrasa sampai self-plagiarism. Plus cara menghindarinya biar skripsimu aman!

05 Agustus 2026 Salwa Aliyyah · SEO Writer 2 menit baca
Jenis Plagiarisme yang Nggak Disadari Mahasiswa
Berdasarkan Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 yang dilakukan KPK terhadap 449.865 responden di 36.888 satuan pendidikan, sebanyak 44,5 persen mahasiswa mengaku melakukan plagiarisme. Angka ini bahkan lebih tinggi dari persentase siswa sekolah yang hanya 6 persen. Lebih mencengangkan lagi, 44,59 persen di antaranya tahu bahwa plagiarisme adalah perbuatan curang, tapi tetap melakukannya.

Fakta ini menunjukkan bahwa plagiarisme bukan sekadar masalah "kurang paham" atau "nggak sengaja". Justru banyak yang sadar, tapi tetap melakukannya. Kalau dibiarkan, kebiasaan ini bisa berdampak panjang, mulai dari nilai dikurangi, gagal wisuda, sampai pembatalan ijazah.

Yuk, kenali empat jenis plagiarisme yang sering nggak disadari ini biar skripsimu aman.

1. Plagiarisme Parafrasa yang Nggak Sempurna

      Kamu mungkin berpikir, "Kan aku udah ganti kata-katanya, masa masih dianggap plagiat?" Faktanya, mengganti beberapa kata dari sumber asli tanpa mengubah struktur kalimat secara signifikan tetap tergolong plagiarisme.

      Misalnya, sumber asli menulis: "Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk opini publik." Lalu kamu menulis: "Opini masyarakat sangat dipengaruhi oleh keberadaan media sosial masa kini." Meskipun kata-katanya berbeda, ide dan strukturnya sama persis. Ini tetap plagiarisme kalau nggak mencantumkan sumber.

      2. Plagiarisme Ide (Gagasan)

      Jenis ini paling sulit disadari karena yang diambil bukan kata-kata, melainkan ide atau konsep. Kamu mungkin membaca sebuah jurnal, kemudian menuliskan ulang gagasan utamanya dengan bahasa sendiri, tapi lupa mencantumkan sitasi.

      Contohnya: sumber asli membahas pentingnya literasi digital untuk memerangi hoaks. Lalu kamu menulis: "Kemampuan memahami informasi digital sangat penting agar masyarakat tidak mudah tertipu kabar bohong." Tanpa menyebut sumber aslinya, ini sudah termasuk plagiarisme ide.

      3. Self-Plagiarism (Plagiarisme Diri)

      Ini jebakan yang paling sering nggak disadari. Kamu mengumpulkan tugas yang sama untuk dua mata kuliah berbeda, atau mengambil sebagian dari skripsimu sendiri untuk publikasi jurnal tanpa menyebutkan sumber aslinya.

      Menurut dosen FEB UGM, Dea Yustisia, menerbitkan karya yang sama di tempat berbeda sebenarnya boleh, tapi harus ada perubahan yang cukup signifikan, baik dari segi penulisan maupun metodologi. Self-plagiarism juga gampang terdeteksi oleh Turnitin karena sistemnya menyimpan data tugas mahasiswa sebelumnya.

      4. Plagiarisme Mosaik (Mosaic Plagiarism)

      Istilah kerennya, menyusun kalimat dari berbagai sumber seperti puzzle, lalu digabung jadi satu tulisan tanpa mencantumkan sumber yang jelas. Kamu mungkin mengambil satu kalimat dari jurnal A, satu paragraf dari buku B, dan satu ide dari artikel C, semuanya dirangkai menjadi tulisan "baru".

      Turnitin menyebut jenis ini sebagai Remix atau Hybrid. Meskipun kamu sudah menggabungkan banyak sumber, tanpa kontribusi pemikiran sendiri yang signifikan, ini tetap plagiarisme.

      Terus, gimana cara menghindarinya?

      • Plagiarisme Parafrasa yang Nggak Sempurna
      • Simpan semua sumber sejak awal. Setiap kali nemu referensi potensial, catat langsung informasi lengkapnya.
      • Biasakan menulis dengan kalimat sendiri, bukan hanya mengganti kata-kata.
      • Cantumkan sitasi untuk setiap ide yang bukan pemikiranmu sendiri.
      • Gunakan alat bantu pengecekan plagiarisme sebelum submit.
      • Kalau pakai AI untuk riset atau kerangka, pastikan isi artikel tetap ditulis ulang dengan gaya bahasamu sendiri.

      Butuh bantuan cek Turnitin atau parafrase biar tulisanmu aman dari plagiarisme? Cek sekarang di Manuru.

      #jenis plagiarisme #plagiarisme #mahasiswa