Parafrase

Cara Parafrase Jurnal yang Benar Tanpa Mengubah Makna

Parafrase yang baik bukan sekadar mengganti beberapa kata. Ketahui cara parafrase jurnal yang benar agar makna tetap terjaga, terhindar dari plagiarisme, dan sesuai dengan kaidah penulisan akademik.

05 Agustus 2026 Nisrina Putri ยท SEO Article Writer 5 menit baca
Cara Parafrase Jurnal yang Benar Tanpa Mengubah Makna

Menulis karya ilmiah hampir selalu melibatkan berbagai referensi, terutama jurnal yang menjadi dasar penyusunan teori maupun pembahasan penelitian. Dalam praktiknya, masih banyak mahasiswa yang menganggap parafrase hanya sebatas mengganti beberapa kata agar tulisan terlihat berbeda dari sumber asli.

Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Tujuan utama parafrase bukan sekadar mengurangi tingkat kemiripan (similarity), melainkan menyampaikan kembali gagasan penulis lain menggunakan susunan kalimat sendiri tanpa mengubah makna yang ingin disampaikan.

Karena itulah, parafrase menjadi salah satu keterampilan yang perlu dikuasai dalam penulisan akademik agar penggunaan referensi tetap sesuai dengan etika ilmiah sekaligus menjaga kualitas karya yang dihasilkan.

Apa Itu Parafrase dalam Penulisan Akademik?

Parafrase adalah proses menyampaikan kembali gagasan, informasi, atau pendapat dari suatu sumber menggunakan kalimat dan gaya bahasa yang berbeda tanpa mengubah makna aslinya. Dalam penulisan akademik, teknik ini digunakan ketika penulis ingin menjelaskan kembali isi referensi dengan bahasa sendiri, bukan menyalin kalimat secara langsung.

Perlu dicatat bahwa parafrase bukanlah hal yang sama dengan menyalin isi sebuah jurnal. Sebagai contoh, mengambil isi artikel jurnal secara verbatim tanpa melakukan perubahan apa pun pada isinya juga berisiko dikategorikan sebagai plagiarisme, terutama jika hal tersebut tidak dilakukan sesuai dengan pedoman penulisan akademis. Di sisi lain, parafrase mengharuskan penulis memahami isi materi rujukan sebelum menyusunnya kembali menjadi kalimat-kalimat baru.

Parafrase juga tidak sama dengan kutipan langsung. Kutipan langsung mempertahankan susunan kalimat asli penulis dan biasanya disertai tanda kutip serta informasi halaman sesuai gaya sitasi yang digunakan. Sebaliknya, hasil parafrase ditulis menggunakan kalimat baru, tetapi sumber aslinya tetap harus dicantumkan melalui sitasi.

Dalam panduan penulisan akademis seperti Purdue OWL dan APA Style, parafrase dianggap sebagai teknik terbaik untuk memasukkan informasi ke dalam tulisan sendiri asalkan maknanya tetap terjaga dan kutipan dilakukan dengan tepat. Ini merupakan salah satu aspek lain dalam penulisan akademis yang menunjukkan bahwa penulis tidak hanya mengutip beberapa fakta, tetapi juga memahami informasi yang digunakan dalam pembahasan.

Mengapa Parafrase Penting dalam Karya Ilmiah?

Parafrase menunjukkan bahwa penulis benar-benar memahami isi referensi yang digunakan. Kemampuan menjelaskan kembali suatu konsep dengan bahasa sendiri menjadi salah satu indikator bahwa informasi tersebut telah dipahami, bukan sekadar dipindahkan ke dalam karya ilmiah.

Teknik ini juga membantu mengurangi risiko plagiarisme karena penulis tidak bergantung pada susunan kalimat dari sumber asli. Meskipun demikian, perubahan kalimat saja tidak cukup sehingga sitasi tetap wajib dicantumkan sebagai bentuk penghargaan terhadap penulis sebelumnya.

Di sisi lain, parafrase membuat isi karya ilmiah menjadi lebih mudah dipahami. Pembahasan menjadi jauh lebih mudah disampaikan karena semua teori dan temuan dari penelitian sebelumnya disajikan dengan gaya yang seragam.

Cara Parafrase Jurnal yang Benar

1. Pahami Isi Jurnal Terlebih Dahulu

Jangan langsung mulai menulis ulang sebuah kalimat setelah sekilas membaca beberapa baris dari jurnal. Pastikan untuk membaca seluruh paragraf dan memahami gagasan utama sebelum menulis ulang kalimat tersebut.

2. Identifikasi Ide Utama

Setelah memahami isi materi rujukan, tentukan poin-poin mana yang perlu dimasukkan ke dalam karya ilmiah. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa penulis hanya berfokus pada detail yang relevan, bukan menyalin seluruh paragraf ke dalam karya mereka.

3. Tulis Ulang Tanpa Melihat Sumber

Tutup jurnal atau dokumen asli sebelum mulai menulis. Cara ini membantu penulis menyusun kalimat berdasarkan pemahaman sendiri sehingga hasil parafrase tidak mengikuti susunan kalimat sumber secara tidak sadar.

4. Gunakan Struktur Kalimat yang Baru

Parafrase jauh lebih dari sekadar mengganti beberapa kata dengan sinonimnya. Hal ini dapat mencakup penataan ulang kalimat secara menyeluruh, seperti mengubah kalimat aktif menjadi pasif dan sebagainya, selama maknanya tetap terjaga.

5. Pilih Diksi yang Sesuai

Gunakan berbagai pilihan kata selain yang digunakan dalam teks asli, tanpa menghilangkan istilah teknis apa pun. Perubahan harus dilakukan hanya pada makna kata tersebut dan tidak menghilangkan informasi yang disampaikan.

6. Tetap Cantumkan Sitasi

Meskipun seluruh kalimat telah disusun ulang, gagasan tersebut tetap berasal dari penulis lain. Karena itu, setiap hasil parafrase harus disertai sitasi sesuai gaya penulisan yang digunakan, seperti APA Style, agar karya ilmiah tetap memenuhi etika akademik.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Parafrase

Kesalahan paling umum yang sering terjadi adalah mengganti beberapa kata dengan sinonim. Parafrase tidak boleh dipahami seperti itu karena struktur kalimat dan gaya penulisan tidak akan berubah.

Beberapa penulis juga sering kali menggunakan struktur kalimat yang sama dengan teks aslinya dalam karya mereka. Tingkat kemiripannya bisa sangat tinggi karena gaya penulisan tidak berubah.

Setelah berhasil memparafrasekan beberapa kalimat, penulis terkadang mengabaikan kewajiban untuk mencantumkan sumbernya. Mengubah susunan kata tidak berarti bahwa gagasan tersebut berasal dari pikiran penulis sendiri. Oleh karena itu, pencantuman sumber tetap diperlukan.

Parafrase juga tidak boleh mengubah makna informasi yang disampaikan. Menyederhanakan isi jurnal hingga menghasilkan kesimpulan yang berbeda justru dapat menimbulkan kesalahan akademik karena informasi yang diterima pembaca tidak lagi sesuai dengan sumber aslinya.

Kesimpulan

Parafrase yang baik tidak hanya menghasilkan kalimat yang berbeda dari sumber asli, tetapi juga tetap mempertahankan makna, konteks, dan informasi yang ingin disampaikan. Proses ini membutuhkan pemahaman terhadap isi jurnal, kemampuan menyusun ulang kalimat, serta konsistensi dalam mencantumkan sitasi sebagai bagian dari etika penulisan akademik.

Jika proses parafrase masih terasa sulit atau membutuhkan hasil yang lebih natural untuk keperluan akademik, manuruID menyediakan layanan parafrase akademik yang membantu menyusun ulang naskah tanpa mengubah substansi pembahasannya sehingga proses revisi dapat dilakukan dengan lebih optimal.

FAQ

Apakah parafrase harus selalu mencantumkan sumber?

Ya. Meskipun kalimat sudah ditulis ulang menggunakan bahasa sendiri, ide atau informasi yang digunakan tetap berasal dari penulis lain. Karena itu, hasil parafrase tetap wajib disertai sitasi sesuai gaya penulisan yang digunakan, seperti APA Style, agar tidak dianggap sebagai plagiarisme.

Apakah mengganti beberapa kata sudah termasuk parafrase?

Belum. Parafrase bukan sekadar mengganti kata dengan sinonim. Penulis perlu memahami isi sumber terlebih dahulu, kemudian menyusun ulang informasi menggunakan struktur kalimat dan gaya bahasa yang berbeda tanpa mengubah makna aslinya.

Bagaimana cara mengetahui hasil parafrase sudah benar?

Hasil parafrase yang baik memiliki makna yang tetap sama dengan sumber asli, menggunakan struktur kalimat yang berbeda, serta mencantumkan sitasi secara tepat. Sebelum mengumpulkan karya ilmiah, lakukan juga pengecekan similarity untuk memastikan tidak ada bagian yang masih terlalu mirip dengan referensi.

#cara parafrase jurnal #parafrase jurnal #cara parafrase yang benar #teknik parafrase #penulisan akademik #karya ilmiah #plagiarism #plagiarisme #sitasi #academic writing