Sering deg-degan lihat hasil Turnitin? Eits, tapi tunggu dulu, Turnitin sebenarnya nggak mendeteksi plagiarisme, lho! Teurs, apa yang sebenarnya mereka ukur, dan bagaimana cara kerja sistem yang bikin banyak mahasiswa penasaran ini?
Gimana Cara Kerja Turnitin?
Step by step-nya kurang lebih seperti ini:
1. Dokumen Dipecah Menjadi Beberapa Bagian
Dilansir dari artikel Turnitin, saat kamu upload tugas atau file, Turnitin memecah teks menjadi segmen-segmen (sekitar 5-10 kalimat). Di tahap awal, sistem juga membersihkan dokumen dari elemen non-teks seperti gambar, tabel dan footnote (catatan kaki).
2. Disesuaikan dengan Database Besar
Potongan teks itu lalu dibandingkan dengan database Turnitin yang sangat besar. Isinya meliputi, miliaran halaman web (baik yang masih aktif maupun yang sudah diarsipkan), lebih dari 130 juta artikel jurnal, puluhan juta tugas mahasiswa dari seluruh dunia, serta koleksi buku dan publikasi akademik.
3. Pakai Dua Teknik Pencocokan
Turnitin menggunakan string matching (mencocokkan kata dan frasa yang sama persis) dan fuzzy matching (mengenali teks yang mengalami perubahan seperti penggantian sinonim atau pergeseran struktur kalimat). Bahkan sistem ini membandingkan hingga 7 triliun kemungkinan kecocokan.
4. Muncul Skor Kemiripan (similarity)
Hasilnya adalah angka persentase, bukan ditetapkan plagiat, tapi indikator seberapa banyak teks kamu yang mirip dengan sumber di database.
Apa arti skor similarity yang muncul?
Berdasarkan artikel "Understanding The Similarity Score" Warna di hasil Turnitin punya makna:
- Biru: tidak ada teks yang cocok
- Hijau: 1-24% teks cocok
- Kuning: 25-49% teks cocok
- Oranye: 50-74% teks cocok
- Merah: 75-100% teks cocok
Tapi kamu harus hati-hati, mendapatkan skor tinggi belum tentu plagiat. Skor 40% bisa jadi wajar karena daftar pustaka dan kutipan yang banyak. Sebaliknya, skor 12% pun bisa bermasalah kalau mengandung patchwriting (parafrase yang terlalu mirip).
Fitur Baru Turnitin: Deteksi Tulisan AI
Sejak maraknya AI, Turnitin kini menambahkan fitur deteksi AI. Cara kerjanya: teks dipecah menjadi beberapa bagian, lalu setiap kalimat diberi skor 0-1 untuk menentukan apakah ditulis manusia atau AI. Model ini dilatih untuk mendeteksi perbedaan pola bahasa, seperti tulisan AI cenderung konsisten dan mudah diprediksi, sedangkan tulisan manusia lebih bervariasi dan punya "ciri khas" tersendiri.
Penelitian yang dipublikasikan di Springer tahun 2026 menunjukkan bahwa Turnitin cukup akurat mendeteksi teks AI, hanya saja akurasinya menurun pada teks yang sudah diparafrase atau humanize.
Keterbatasan yang Perlu Kamu Ketahui
Mengutip dari UP Library Services, berikut beberapa hal yang perlu diingat:
- False Positive (teks manusia dikira AI) bisa terjadi, terutama pada tulisan berbahasa Inggris dari penutur non-native atau tulisan dengan gaya sangat formal.
- Untuk dokumen under 300 kata, deteksi AI kurang bisa diandalkan.
- Turnitin nggak bisa detect contract cheating (praktik joki tugas)
- Turnitin sendiri menyarankan untuk tidak menggunakan skor AI sebagai satu-satunya dasar mengambil tindakan.
Jadi, daripada takut sama angka hasil Turnitin, mending kamu fokus sama praktik menulis yang baik, seperti mengutip sumber dengan benar, parafrase dengan bijak dan pahami materi yang kamu tulis. Dengan begitu, kamu nggak perlu khawatir meskipun skor similarity-mu tidak nol.