Penggunaan ChatGPT dalam penulisan skripsi sering dikaitkan dengan kekhawatiran mengenai plagiarisme. Mahasiswa mungkin bertanya apakah teks yang dihasilkan AI dapat membuat skripsi memiliki kemiripan dengan karya orang lain.
Lalu, apakah ChatGPT bisa membuat skripsi terkena plagiarisme? Untuk menjawabnya, penting membedakan antara penggunaan AI, kemiripan teks, dan plagiarisme karena ketiganya tidak selalu memiliki arti yang sama.
Menggunakan ChatGPT Tidak Otomatis Berarti Plagiarisme
Plagiarisme berkaitan dengan penggunaan karya atau gagasan orang lain tanpa pengakuan yang semestinya. Sementara itu, penggunaan ChatGPT merupakan cara atau alat yang digunakan dalam proses menghasilkan atau mengolah tulisan.
Artinya, keberadaan ChatGPT dalam proses penulisan tidak dengan sendirinya menentukan apakah suatu tulisan merupakan plagiarisme. Penilaian tetap perlu melihat bagaimana teks dibuat, dari mana gagasannya berasal, dan apakah sumber yang digunakan telah diakui dengan benar.
Karena itu, penggunaan AI dan plagiarisme tidak dapat disamakan begitu saja.
Mengapa Penggunaan ChatGPT Tetap Bisa Menimbulkan Risiko?
Meskipun penggunaan AI tidak otomatis berarti plagiarisme, cara penggunaannya dapat menimbulkan masalah akademik.
Misalnya, mahasiswa meminta ChatGPT membuat tulisan berdasarkan sumber tertentu kemudian langsung menggunakan hasilnya tanpa memeriksa isi atau mencantumkan sumber. Jika gagasan tersebut berasal dari karya orang lain, tidak adanya pengakuan terhadap sumber tetap menjadi persoalan.
Risiko lain muncul ketika mahasiswa menggunakan informasi atau referensi yang diberikan AI tanpa memastikan kebenaran dan sumber aslinya.
Similarity dan Plagiarisme Bukan Hal yang Sama
Kemiripan teks dan plagiarisme juga perlu dibedakan. Similarity menunjukkan adanya kemiripan antara teks yang diperiksa dengan teks lain dalam basis data atau sumber yang dibandingkan.
Kemiripan tersebut tidak otomatis membuktikan adanya plagiarisme. Kutipan yang benar, istilah khusus, judul, daftar pustaka, atau bagian tertentu yang memang harus menggunakan istilah yang sama dapat menghasilkan kemiripan.
Sebaliknya, rendahnya persentase kemiripan juga tidak otomatis berarti sebuah tulisan bebas dari plagiarisme. Konteks penggunaan sumber dan cara mahasiswa mengakui sumber tetap perlu diperhatikan.
Bagaimana ChatGPT Bisa Meningkatkan Risiko Plagiarisme?
Beberapa cara penggunaan AI dapat meningkatkan risiko masalah dalam penulisan akademik.
1. Menggunakan Teks Tanpa Memahami Sumber
Mahasiswa dapat memasukkan teks hasil AI tanpa mengetahui apakah informasi tersebut berasal dari sumber tertentu atau apakah isinya benar.
2. Tidak Mencantumkan Sitasi
Jika teks atau gagasan berasal dari sumber lain, penggunaannya tetap perlu disertai pengakuan terhadap sumber. Menggunakan AI untuk mengubah kalimat tidak menghapus kewajiban tersebut.
3. Menggunakan Referensi yang Tidak Diverifikasi
AI dapat memberikan informasi referensi yang perlu diperiksa kembali. Mengandalkan sumber yang tidak benar dapat membuat kualitas akademik skripsi bermasalah.
4. Menganggap Hasil AI Selalu Original
Teks yang dihasilkan AI tidak seharusnya langsung dianggap sepenuhnya bebas dari kemiripan dengan karya lain. Pemeriksaan dan peninjauan tetap diperlukan sebelum teks digunakan.
Cara Mengurangi Risiko Plagiarisme Saat Menggunakan ChatGPT
Mahasiswa yang diperbolehkan menggunakan ChatGPT dapat melakukan beberapa langkah untuk menjaga kualitas dan integritas akademik:
- Pahami sumber sebelum menulis atau melakukan parafrase.
- Gunakan sitasi ketika mengambil gagasan dari sumber lain.
- Verifikasi referensi yang diberikan AI.
- Periksa kembali hasil tulisan sebelum memasukkannya ke skripsi.
- Jangan menganggap teks AI otomatis bebas dari kemiripan.
- Gunakan pemeriksaan similarity sebagai salah satu tahap evaluasi tulisan.
- Ikuti kebijakan penggunaan AI yang ditetapkan kampus atau program studi.
Langkah tersebut membantu mahasiswa menjaga agar penggunaan AI tidak menghilangkan tanggung jawab terhadap proses penulisan akademik.
Kesimpulan
ChatGPT tidak otomatis membuat skripsi menjadi plagiarisme. Namun, cara menggunakan AI dapat meningkatkan risiko masalah akademik jika mahasiswa tidak memahami sumber, mengabaikan sitasi, atau langsung menggunakan informasi tanpa melakukan pemeriksaan.
Karena itu, penggunaan ChatGPT dalam skripsi perlu disertai pemahaman terhadap sumber, pemeriksaan isi, dan kepatuhan terhadap aturan akademik. Similarity juga perlu dipahami sebagai indikator kemiripan teks, bukan satu-satunya dasar untuk menentukan plagiarisme.
FAQ
Apakah tulisan dari ChatGPT pasti bebas plagiarisme?
Tidak dapat langsung dianggap demikian. Teks tetap perlu diperiksa dan sumber gagasan harus diakui jika berasal dari karya orang lain.
Apakah similarity tinggi berarti skripsi terkena plagiarisme?
Tidak otomatis. Similarity menunjukkan kemiripan teks, sedangkan plagiarisme perlu dilihat berdasarkan konteks penggunaan dan pengakuan terhadap sumber.
Bagaimana agar penggunaan ChatGPT tidak menimbulkan masalah akademik?
Gunakan AI sesuai aturan kampus, verifikasi informasi, cantumkan sitasi yang diperlukan, dan periksa kembali hasil tulisan sebelum digunakan.