Turnitin

Asal Usul Turnitin yang Jarang Diketahui

Tahukah kamu Turnitin awalnya bukan untuk cek plagiarisme? Simak kisah unik di balik lahirnya tools andalan mahasiswa sedunia ini.

08 Agustus 2026 Salwa Aliyyah · SEO Writer 2 menit baca
Asal Usul Turnitin yang Jarang Diketahui

Kamu pernah kepikiran nggak, gimana sih awal mula Turnitin bisa ada dan sekarang dipakai di hampir seluruh kampus di dunia?

Kalau selama ini kamu tim yang cuma kenal Turnitin sebagai website buat ngecek plagiarisme, ternyata cerita di baliknya jauh lebih menarik dari yang kamu kira. Yuk, kita bahas bareng disini!

Awal Mula Turnitin Dibuat

Turnitin lahir dari kebutuhan yang cukup sederhana. Pada tahun 1998, empat mahasiswa University of California, Berkeley, yaitu Dr. John Barrie, Emmanuel Briand, Melissa Lipscomb, dan Dr. Christian Storm melihat ada kebutuhan pendidikan yang belum terpenuhi.

Awalnya, mereka cuma mau bikin aplikasi peer review atau penilaian antarteman. Tujuannya biar mahasiswa bisa saling kasih feedback atau masukan buat tugas-tugas mereka.

Tapi saat lagi memersiapkan sistem buat peer review ini, mereka nemuin fakta menarik, diantaranya ada banyak kemiripan teks di antara tugas mahasiswa yang berbeda. Dari situ, mereka sadar ada challenge baru yang lebih besar, gimana caranya menjaga integritas akademik dalam karya tulis.

Dari penemuan nggak sengaja itulah Turnitin akhirnya dibuat.

Dari Peer Review Jadi Pelopor Cegah Plagiarisme

Uniknya, sistem yang sekarang kita kenal sebagai alat anti plagiarisme ini awalnya bukan dirancang untuk itu. Seperti yang dijelaskan di situs resmi Turnitin, keempat mahasiswa mendapatkan feedback dari teman sekelasnya. 

Dari situlah mereka mengidentifikasi kemiripan teks di berbegai konten mahasiswa dan menemukan tantangan baru untuk diatasi. Kesadaran inilah yang mengubah arah pengembangan mereka, dari yang awalnya hanya untuk website kolaborasi, kini menjadi sistem pengecekan plagiarisme.

John Barrie yang saat itu masih menjadi mahasiswa doktoral, menciptakan situs pendahulu Turnitin yang diberi nama Plagiarism.org di tahun 1995 sebagai tanggapan terhadap apa yang ia sebut sebagai "maraknya praktik kecurangan" di kelas yang diajarnya sebagai asisten pengajar.

Perjalanan Turnitin

Setelah didirikan tahun 1998, Turnitin baru meluncurkan layanan deteksi plagiarisme secara resmi pada tahun 2000 melalui Turnitin.

Sejak saat itu perjalanan Turnitin terus berkembang:

  • 2004: Meluncurkan iThenticate, layanan khusus untuk pengecekan orisinalitas karya akademis dan jurnal
  • 2007: Bermitra dengan CrossRef untuk mengembangkan database konten akademis
  • 2014: Diakuisisi oleh dana kekayaan negara Singapura, GIC, dengan nilai US$752 juta
  • 2018: Mengakuisisi Gradescope dan VeriCite
  • 2019: Diakuisisi oleh Advance Publications dengan nilai sekitar US$1,75 miliar
  • 2023: Meluncurkan fitur deteksi AI sebagai respons terhadap maraknya penggunaan AI pada karya ilmiah

Seberapa Besar Turnitin Sekarang?

Setelah lebih dari 25 tahu beroperasi, Turnitin kini melayani lebih dari 16.000 institusi di 185 negara dan membantu lebih dari 71 juta siswa di berbagai tingkat pendidikan.

Database Turnitin juga sangat besar, mencakup miliaran halaman web, jutaan artikel jurnal, dan ratusan juta tugas mahasiswa dari seluruh dunia. Bahkan, pada 2023 saja, Turnitin telah memproses lebih dari 50 juta unggahan secara global.

Sekarang udah terjawab kan rasa penasarannya?

Turnitin kini menjadi standar global dalam menjaga integritas akademik. Perjalanannya membuktikan bahwa terkadang solusi terbaik lahir dari kebutuhan yang paling mendasar—dan temuan tak terduga bisa mengubah arah sejarah.

Jadi, lain kali kamu unggah tugas ke Turnitin, ingat ya kalau di balik layar ada cerita panjang tentang empat mahasiswa yang awalnya cuma mau bantu teman-temannya belajar lebih baik.

Yuk, lebih hargai proses akademik dengan selalu mengutamakan orisinalitas dalam setiap karya tulis!

#sejarah turnitin #asal usul turnitin