Jurnal ilmiah sering digunakan sebagai sumber untuk memperkuat pembahasan dalam skripsi atau karya ilmiah. Namun, menemukan jurnal yang sesuai belum berarti sumber tersebut sudah digunakan dengan tepat.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya cara menuliskan sitasinya, tetapi juga bagaimana jurnal dipilih, dibaca, dipahami, dan digunakan untuk mendukung suatu pernyataan. Berikut beberapa enam kesalahan yang dapat membantu mahasiswa memeriksa kembali cara menggunakan jurnal sebagai referensi.
1. Memilih Jurnal Hanya karena Judulnya Relevan
Judul jurnal memang dapat menjadi petunjuk awal, tetapi belum cukup untuk menentukan apakah sebuah artikel benar-benar sesuai dengan kebutuhan penelitian. Isi, tujuan, metode, hasil, dan konteks penelitian tetap perlu diperiksa.
Panduan evaluasi artikel dari Concordia University Library menyarankan untuk memperhatikan antara lain otoritas penulis, kebaruan, relevansi, tujuan artikel, akurasi dokumentasi, dan objektivitas.
Karena itu, jurnal dengan judul yang terlihat mirip belum tentu menjadi sumber yang tepat untuk mendukung argumen tertentu dalam skripsi.
2. Menggunakan Jurnal Tanpa Membaca Isi Sumber
Salah satu kesalahan yang perlu dihindari ialah memasukkan jurnal ke dalam daftar referensi hanya karena menemukan informasi yang tampaknya sesuai. Mahasiswa tetap perlu membaca bagian yang relevan agar mengetahui apa yang sebenarnya dibahas dan ditemukan oleh peneliti.
Artikel tentang praktik referencing juga menekankan pentingnya membaca dan memahami sumber yang digunakan, bukan sekadar menyalin informasi referensi dari publikasi lain.
Membaca sumber secara langsung juga membantu mencegah kesalahan ketika sebuah pernyataan dalam skripsi ternyata memiliki konteks yang berbeda dari pemahaman awal.
3. Mengutip Kesimpulan yang Tidak Didukung Penelitian
Jurnal sebaiknya tidak digunakan untuk mendukung pernyataan yang sebenarnya tidak dibuktikan oleh penelitian tersebut. Hasil penelitian perlu dibaca dalam konteks tujuan, metode, data, dan kesimpulan yang disampaikan penulis.
Misalnya, sebuah penelitian menemukan hubungan antara dua variabel pada kelompok tertentu. Temuan tersebut tidak otomatis dapat digunakan untuk menyatakan bahwa hubungan yang sama berlaku pada semua kelompok atau situasi.
Dengan memahami batas temuan penelitian, mahasiswa dapat menghindari penggunaan jurnal secara berlebihan atau menarik kesimpulan yang terlalu luas.
4. Mengandalkan Abstrak atau Sumber Sekunder Saja
Abstrak memang berguna untuk mengetahui gambaran umum sebuah artikel, tetapi tidak selalu memberikan seluruh informasi yang dibutuhkan untuk mendukung suatu argumen. Detail metode, batasan penelitian, hasil, dan konteks biasanya perlu dilihat pada bagian artikel yang lebih lengkap.
Kesalahan citation yang dibahas dalam literatur referencing antara lain mengutip sumber berdasarkan abstrak saja tanpa membaca artikel lengkap serta menggunakan cross-reference tanpa membaca sumber aslinya.
Jika sebuah jurnal ditemukan melalui artikel lain, mahasiswa juga sebaiknya menelusuri sumber aslinya sebelum menggunakannya sebagai referensi utama.
5. Tidak Memperhatikan Tahun dan Konteks Penelitian
Tahun publikasi perlu dipertimbangkan sesuai kebutuhan penelitian. Sumber lama tidak otomatis tidak dapat digunakan, tetapi untuk topik yang berkembang cepat, literatur yang lebih baru mungkin diperlukan agar pembahasan tetap relevan.
Selain tahun, perhatikan pula konteks penelitian seperti lokasi, karakteristik responden, bidang kajian, metode, dan periode pengambilan data. Artikel yang relevan secara topik belum tentu relevan sepenuhnya dengan pertanyaan penelitian yang sedang dibahas.
6. Detail Sitasi Tidak Sesuai dengan Sumber Asli
Kesalahan tidak hanya terjadi pada isi yang dikutip. Informasi dalam daftar pustaka juga dapat keliru, misalnya nama penulis, judul jurnal, tahun terbit, volume, nomor, atau halaman.
Artikel The Art of Referencing mencatat bahwa referensi dapat mengandung kesalahan ketika informasinya disalin dari publikasi lain tanpa diverifikasi. Setiap referensi sebaiknya diperiksa kembali dengan sumber bibliografis atau dokumen asli.
Selain itu, pastikan setiap sitasi dalam teks memiliki pasangan yang sesuai di daftar pustaka dan sebaliknya. Konsistensi tersebut penting agar pembaca dapat menemukan sumber yang digunakan dengan mudah.
Cara Menggunakan Jurnal sebagai Referensi dengan Lebih Tepat
Setelah menemukan jurnal, jangan langsung memasukkannya ke daftar pustaka. Periksa beberapa hal berikut:
- Relevansi, apakah artikel benar-benar berkaitan dengan topik atau pertanyaan penelitian?
- Penulis dan penerbit, apakah sumber berasal dari penulis dan publikasi yang dapat dipertanggungjawabkan?
- Tahun publikasi, apakah waktu terbitnya sesuai dengan kebutuhan penelitian?
- Isi penelitian. apa tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan penelitian?
- Konteks temuan, apakah temuan tersebut sesuai dengan konteks argumen yang ingin dibuat?
- Detail bibliografi, apakah informasi penulis, judul, tahun, dan data publikasi sudah sesuai dengan sumber asli?
Panduan evaluasi artikel juga menekankan pentingnya melihat relevansi, otoritas, kebaruan, dokumentasi, dan tujuan sebuah artikel sebelum menggunakannya sebagai sumber.
Kesimpulan
Kesalahan menggunakan jurnal sebagai referensi tidak hanya berkaitan dengan format sitasi. Masalah juga dapat muncul ketika mahasiswa memilih sumber hanya berdasarkan judul, tidak membaca isi artikel, salah memahami temuan, mengandalkan abstrak atau sumber sekunder, mengabaikan konteks penelitian, hingga menyalin detail referensi tanpa melakukan verifikasi.
Karena itu, jurnal sebaiknya diperlakukan sebagai sumber yang perlu dibaca dan dipahami, bukan sekadar nama yang dimasukkan ke dalam daftar pustaka. Dengan memeriksa relevansi, isi, konteks, dan detail bibliografinya, penggunaan jurnal dalam skripsi dapat menjadi lebih tepat.
FAQ
Apakah semua jurnal yang relevan dengan judul penelitian bisa digunakan sebagai referensi?
Tidak. Relevansi judul merupakan langkah awal, tetapi isi, metode, hasil, konteks, dan kredibilitas sumber juga perlu diperiksa.
Apakah cukup membaca abstrak sebelum mengutip jurnal?
Untuk memahami dan menggunakan temuan tertentu sebagai dasar argumen, sebaiknya baca bagian artikel yang relevan secara lebih lengkap, bukan hanya mengandalkan abstrak.
Mengapa detail referensi perlu dicek kembali?
Karena kesalahan pada nama penulis, judul, tahun, volume, halaman, atau informasi publikasi dapat membuat sumber sulit ditemukan dan menyebabkan ketidaksesuaian antara sitasi dan daftar pustaka.